Sekitar 7 bulan lalu aku mengenal banyak teman baru, ya karena aku pindah kerja ke perusahaan di daerah kuningan. Dari awal aku kerja tak pernah ada yang menarik di mata, sampai pada akhirnya beberapa minggu setelahnya, di saat aku ke luar kantor untuk pulang dan menunggu lift terbuka bersama karyawan lainnya, di sana aku melihat pria yang i think he’s soooo my type, dan lucunya ada seorang ibu yang celetuk berkata “istri kamu lahiran sesar apa normal” dan dalam hati aku langsung berkata *ohhhh, maaannn.. Sekalinya ada yang tipe gw dia udah punya istri dan anak!!* *mewek di bawah bungkus martabak rembulan*
Dan beberapa hari berlalu, yang biasanya aku pulang naik kereta, aku mencoba pulang naik kopaja bersama 1 teman kantorku, di perjalanan pulang dia banyak bercerita tentang kantor, dan salah satunya dia bilang “di kantor ada yang jadi idola kita ber3 (dia dan 2 temannya)” tersebutlah nama pria itu, sambil dia berkata “iya, klo dia sholat si V ikut sholat, kita manggil dia mas cungkring” akupun langsung tertawa dan menceritakan hal yang pertama kali aku bertemu dengannya. Di dalam kopaja itupun kita ber2 langsung tertawa.
Ada beberapa cerita lucu saat aku bersamanya, aku memang orang yang excited di belakang tapi di depan orangnya aku pura-pura tak terlihat suka dan sangaaat ciuttt, jadi ada 1 anak kantor dan dia anak CEO dari kantor tersebut, dan pastinya sangat memukau, aku sering di depan dia dan teman-teman kantorku menyebut namanya, yang biasa aku panggil ayang tapi saat bertemu dengannya ya aku berpura-pura santai. Ada 1 cerita ketika kita sedang nonton basket di senayan, termasuk dia dan beberapa temannya, dia memanggil nama pria itu dan aku langsung ketakutan, ke esokan harinya di kantor setiap hari kalau aku berkata soal pria itu lagi aku langsung dibilang “halah, di belakang aja ngomong ayang, di depan orangnya ketakutan” olehnya. Padahal dalam hati aku berkata *dia nggak tau aja, aku melakukan hal yang sama di belakangmu kebanyak orang tanpa kamu ketahui* :’))
Diapun pernah bertanya pada saat kami pulang kantor dan makan malam bersama beberapa teman lainnya juga “kamu kenapa nggak sama si A aja? Emang tipe kamu kayak gimana?” ingin rasanya aku berteriak “ya tipeku kamuu“‘tapi aku belum cukup gila untuk berkata itu. Hahaha..
Waktu ke waktu berlalu, banyak cerita pertemanan yang kita lalui.. Sampai saatnya perpisahaan, ya karena dia harus kuliah di luar negeri agustus mendatang, dia memutuskan untuk resign dari pekerjaan. Tapi entah mengapa ada satu jalan yang tak disangka, yaitu seminggu terakhir dia bekerja di sana aku pindah duduk di sebelahnya. Untunglah cuma seminggu, ya untung.. Bukan karena aku takut semakin tergoda untuk menatap dia tiap saat, karena aku harus mengingat dia suami orang, ya s-u-a-m-i, tapi aku beruntung karena aku tak harus setiap hari mendengar dia asik bertelp. Telpan dengan istrinya, yang dia panggil ibu. Yang biasanya hanya saat sarapan aku mendengar dia memanggil ibu, ini setiap hari selama 1 minggu aku harus mendengar itu, dan karena dadaku yang terlalu sesak mendengarnya (tanpa harus aku menguping tentunya, karena cukup menyesakkan) aku memutuskan untuk mendengar lagu lewat earphone, padahal selama aku bekerja di sana, aku bisa dihitung pakai 1 tangan untuk mendengar musik selagi kerja, tapi itulah caraku untuk menghindari kesulitan bernapas (Katakan ini lebay, tapi ini yang terjadi.) Ada 1 cerita di mana aku sedang kerja, tiba-tiba saja dia mengangkat telp dari istrinya, dan apa yang dia lakukan? Dia duduk tepat di belakangku sambil melihat aku kerja tapi sambil asik menelp istrinya, saat itu juga rasanya bagai gunung yang meletus. :’)) tapi itu sudah berlalu, dia telah kembali untuk tak akan bertemu setiap saat lagi.
Akhir cerita, saat perpisahaan hari terakhir di kantor, aku memberikan dia kenang-kenangan sebuah pop up card dan saat semua berkumpul sambil memberikan kenangan terakhir itu, dia bertanya siapa yang membuat lalu temanku celetuk “affin” seketika itupula teriakan “cie” bergemuruh ramai, akupun cuma bisa ‘sok bingung’. Dan datanglah sesi foto-foto perpisahan, yang tadinya mau berfoto di meja kerjanya, dan aku sudah berdiri yang entah mengapa pas sekali dia berdiri di sebelahku, tapi keberuntungan belum memihak kepadaku, karena tempat yang terlalu kecil akhirnya kami tidak jadi berfoto bersama di sana dan memilih tempat yang lebih besar lagi dan tentunya kesempatan untuk berdiri di sebelahnya sudah tak mungkin. :’))
Begitupun saat salam-salaman perpisahan, aku cuma bisa tos tangan tanpa sanggup bersalaman padahal ada 1 teman perempuanku yang lain lagi (ya, memang cukup banyak yang mengagumi dia) temanku itu bilang “gw donggg, tadi cipika cipiki sama dia” jleb, aku saja tak sanggup untuk bersalaman lebih lama karena pasti akan terlihat ciut, jangankan perpisahan akhir,pada saat dia mengucap kata perpisahan di depan banyak orang saja aku hanya bisa menunduk karena menangis terisak. Dan akhirnya pada kesempatan akhir itu aku cuma bisa kakuuuu sekali.
Untunglah ada foto yang dapat aku kenang, menempatkan aku ketika saat farewell dia di pizza hut, aku duduk di sebelahnya (sungguh, ini bukan keinginanku tapi memang dia yang tepat duduk di sebelahku) :p dan aku meminta 1 temanku yang tepat duduk di depan kita berdua untuk mengcandid itu, walau hasilnya kurang bagus karena dia sedang mengunyah makanan, tapi setidaknya ada kenangan manis tercipta di sana.
Selamat jalan pria yang aku kagumi, sukses di negeri orang dan semoga kamu bahagia selamanya bersama anak dan istrimu.

by: Your secret admirer.